Tampilkan postingan dengan label Alhikma Tiara (Farmasi Unsri 2013). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alhikma Tiara (Farmasi Unsri 2013). Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2015

International Pharmaceutical Federation (FIP) menetapkan perayaan World Pharmacist Day tahun ini bertema “Pharmacist : Your Partner in Health”. Obat memang merupakan tanggung jawab farmasis. Tetapi profesi kesehatan lainnya sebagai partner juga penting. Semua profesi kesehatan bekerja sama dalam menangani pasien, menjamin kesehatan pasiennya dengan menyediakan pelayanan kesehatan sesuai tugas masing-masing, dengan visi yang satu, untuk kesehatan yang lebih baik. Sebagai mahasiswa farmasi yang nantinya akan bekerja sebagai farmasis, tentu harus menyiapkan diri sebaik mungkin agar kelak bisa berguna, sebagai partner dalam kesehatan masyarakat. Selain memperingati dan merayakan, kita juga harus mengeksistensikan profesi farmasis di masyarakat luas. Mereka harus tau pentingnya farmasis dalam memberikan pelayanan kesehatan yakni segala hal menyangkut obat-obatan mulai dari produksi hingga distribusi, dipegang oleh farmasis.
Melalui perayaan World Pharmacist Day 25 September 2015, Himpunan Keluarga Mahasiswa Farmasi bersama Staf Ahli Pendidikan dan Profesi menyelenggarakan kegiatan Pharmacist Goes to School. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan profesi farmasis sejak dini kepada siswa-siswi kelas 3 SMA IPA yang sebentar lagi akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Kegiatan ini dilakukan di SMA Negeri Unggulan Indralaya Utara pada hari Sabtu, 19 September 2015. Kegiatan berlangsung sejak pagi pukul 09.30-11.30 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi kelas 3 IPA, guru-guru dan staf karyawan, serta mahasiswa farmasi Universitas Sriwijaya sebagai panitia penyelenggara.
Kegiatan ini disambut antusias yang cukup meriah dari para siswa dan guru. Para siswa dikumpulkan di aula sekolah untuk menerima materi yang akan diberikan. Dengan konsep talkshow interaktif, dengan pembicara yakni 3 mahasiswa inspiratif Farmasi Universitas Sriwijaya antara lain, Andrew (2012), Yovia (2013) dan Asfa (2014). Acara yang dipandu Adelia dan Abu dimulai dengan sambutan dari Oon Fatihana selaku ketua pelaksana kegiatan. Selanjutnya, pemberian materi pun disampaikan kepada siswa.
Dimulai dengan menanyakan kepada mereka sejauh mana mereka tau tentang farmasi dan jawaban mereka cukup memuaskan mengingat mereka sudah cukup mengetahui farmasi dan prospek kerjanya. Namun ketika ditanya apakah mereka bercita-cita menjadi seorang farmasis? Hanya diam tanpa suara. Mereka memerlukan lebih banyak informasi mengenai ilmu farmasi dan prospek kerja kedepannya.
Diperkenalkan 7 stars Pharmacist plus 2 stars yang menjadi pedoman sebagai seorang farmasis, antara lain care-giver, leader, communicator, teacher, manager, decision maker, life long learner serta enterpreuner dan researcher. Kesembilan bintang ini dijelaskan secara umum pada mereka. 3 bintang yang utama, yakni care-giver, researcher dan enterpreuner dijelaskan secara bergantian oleh Andrew, Yovia dan Asfa. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti siswa, serta contoh aplikatif sekaligus memperkenalkan aktivitas mahasiswa farmasi ketika kuliah, tentunya materi yang disampaikan dapat langsung ditangkap oleh siswa dengan baik. Di tempat terpisah, dilaksanakan Cek Kesehatan Gratis meliputi cek gula darah, golongan darah, dan asam urat untuk guru dan staf karyawan. Dibantu Staf Ahli Sosial dan Pengabdian Masyarakat, cek kesehatan untuk guru berlangsung dengan baik.
Selanjutnya dilakukan games seru yakni menggerus serbuk dan membuat pulveres. Siswa pun begitu antusias untuk mengikuti games tersebut. Setelah dicontohkan bagaimana cara melipat perkamen dan menggerus serbuk, serta memasukkan serbuk kedalam perkamen, peserta games pun dilombakan. Dengan ketepatan waktu dan kerapihan dalam membuat pulveres, ditentukan 3 pemenang terbaik dan diberi hadiah. Siswa lain yang belum berkesempatan megikuti games juga diberi kenang-kenangan untuk memotivasi mereka kelak menjadi calon farmasis yang berguna nantinya. Dengan jargon “Student Today, Pharmacist Tomorrow” disuarakan kepada para siswa dengan penuh semangat. Melihat antusiasme dan ketertarikan siswa akan farmasi dan profesi farmasis sendiri, eksistensi dan pengenalan akan profesi farmasi sejak dini kepada siswa SMA yang juga calon mahasiswa nanti, dinilai berhasil. (at)


Cek Kesehatan Gratis untuk Guru

Pemberian cinderamata kepada SMA N Unggulan Indralaya Utara

Penyampaian materi dari pembicara

Antusiasme siswa saat penyampaian materi

Memberitahukan cara melipat perkamen dengan baik

Games


Foto bersama siswa SMA N Unggulan Indralaya Utara dan mahasiswa Farmasi Universitas Sriwijaya

Rabu, 27 Mei 2015


Minggu lalu baru saja diselenggarakan kegiatan Bakti Farmasi di Desa Purnajaya, Indralaya Utara, Ogan Ilir oleh Himpunan Keluarga Mahasiswa Farmasi Universitas Sriwijaya. Kegiatan ini  berlangsung dari 13-15 Mei 2015. Lokasi kegiatan terpusat di Dusun 2 dan Dusun 3 dimana rumah Kepala Desa Purnajaya, Ibu Rusmaihana terletak di Dusun 2. Kegiatan bertema “Melangkah untuk Desa yang Lebih Sehat” terdiri dari rangkaian acara antara lain Home Visit, Pembersihan Desa, Pasar Murah, Cek Kesehatan, Games Keakraban, Nonton Film Inspiratif dan Mengajar serta Perkenalan Profesi Apoteker. Bakti Farmasi ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar warga Desa Purnajaya dan mahasiswa/i Farmasi Universitas Sriwijaya serta berbakti sosial dan berbagi kasih antar sesama.
Berbagai persiapan pun dilakukan demi suksesnya acara ini. Rabu sore, seluruh mahasiswa yang berpartisipasi berangkat menuju Desa Purnajaya menggunakan truk dan sepeda motor. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Semuanya langsung menuju Dusun 2 tempat kediaman ibu Kades. Sesampainya disana, antusiasme dan sambutan warga cukup meriah. Semua warga berkumpul di kediaman ibu Kades demi menyambut kedatangan kami. Setelah meletakkan seluruh peralatan yang kami bawa untuk keperluan 3 hari kedepan, kami pun bersiap melakukan kegiatan yang pertama, yakni Home Visit. Dengan pembagian yang telah ditetapkan, sebagian mengunjungi Dusun 1 dan 2 sementara sisanya mengunjungi Dusun 3. Home Visit bertujuan menjalin silaturahmi dan mengakrabkan diri dengan warga sekitar. Di Dusun 1 dan 2, jarak antar rumah tidak begitu berjauhan sedangkan di Dusun 3, jarak antar rumah warga cukup jauh. Setelah melakukan Home Visit, kami pun membersihkan diri dan beristirahat sembari mempersiapkan untuk kegiatan esok hari.
Kamis pagi, seluruh anak-anak Dusun 1 dan 2 telah berkumpul untuk senam bersama mahasiswa Unsri menyambut indahnya pagi. Kegiatan hari ini adalah Pembersihan Desa dimana untuk Dusun 1 dan 2 dipusatkan di balai desa dan sekitarnya sedangkan Dusun 3 dipusatkan di masjid dan sekitarnya. Dengan pembagian yang telah ditetapkan, kami pun bersiap menuju lokasi pembersihan. Sampah-sampah berserakan dibersihkan, got-got dibersihkan dari sampah agar alirannya lancar, rumput-rumput tinggi ditebas agar tidak menghalangi jalan. Dibuatlah TOGA didekat balai desa agar kelak bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Pembersihan Desa pun selesai, dilanjutkan dengan Pasar Murah yang menjual sembako murah nan terjangkau dengan beragam paket yang ditawarkan serta menjual pakaian layak pakai yang juga terjangkau. Warga begitu semangat, terutama ibu-ibu begitu antusias. Siang hari, dilakukan Cek Kesehatan meliputi cek berat badan, tinggi badan, tekanan darah, gula darah, golongan darah dan asam urat. Cek Kesehatan ini juga dilakukan di dua tempat. Jarak Dusun 2 dan Dusun 3 yang cukup jauh tidak menyurutkan semangat kami untuk melakukan Cek Kesehatan untuk warga desa. Sembari mengantri, kami membagikan pamflet kesehatan berupa pengenalan dan pencegahan akan penyakit yang banyak diderita warga sekitar, yakni reumatik dan DBD.
Sore harinya, diadakan Games Keakraban di Dusun 2 yaitu joget balon, terkhusus untuk anak-anak dan remaja. Games berlangsung riuh dan meriah. Kegiatan malam hari yakni Nonton Bareng Film Inspiratif, dua film pendek ditayangkan yaitu Oemar Bakri dan Aku Ingin Sekolah, karya komunitas Videografi Unsri. Kedua film tersebut benar-benar menginspirasi anak-anak Desa Purnajaya untuk semangat bersekolah, mengejar cita-cita. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun Ibu Kades yang ke 44 tahun. Kami bersama warga desa merayakan dengan meriah sebagai ucapan terima kasih karena telah disambut dengan baik.
Hari jumat, 15 Mei 2015, kami melaksanakan kegiatan terakhir kami yakni Mengajar dan Pengenalan Profesi Apoteker di PAUD Puspita dan SDN 04 Indralaya Utara. Konsep mengajar dan pengenalan profesi apoteker yang berbeda disesuaikan dengan tingkat dan kemampuan siswa.  Siswa PAUD diajak mewarnai bersama, bernyanyi ria, bermain origami dan membuat cemilan. Untuk siswa SD, kelas 1 dan 2, profesi apoteker dikenalkan melalui tebak gambar berhubungan dengan kefamasian. Kelas 3 dan 4, pengenalan profesi apoteker disampaikan melalui drama sederhana, membedakan profesi apoteker dengan profesi lain. Untuk kelas 5, pengenalan profesi apoteker disampaikan secara aplikatif dimana mereka diajarkan apa saja yang biasa apoteker lakukan seperti menggerus obat, melipat perkamen, dan  mengisi cangkang kapsul. Siswa kelas 5 juga dikenalkan mengenai farmasi secara sederhana, mencakup  ruang lingkup ilmu farmasi seperti menyebutkan obat-obatan yang biasa digunakan, pengenalan penyakit dan obatnya, pelajaran yang berhubungan dengan farmasi, dsb. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penyampaian materi, diadakan lomba melipat perkamen dan mengisi cangkang kapsul untuk siswa kelas 5. Dilakukan pula penobatan Maskot Apoteker Cilik dengan menilai aktivitas siswa selama penyampaian materi, bagaimana ia  bisa memahami apa itu apoteker dan mampu menerapkannya. Melalui lomba tersebut diajarkan bahwa apoteker harus berkerja cepat dan tepat namun tetap memperhatikan ketelitian dan kebersihan. Terpilihlah Wahyu sebagai Apoteker Cilik Universitas Sriwijaya. Setelah berfoto bersama kami pun pamit kembali ke Dusun 2.

Hari itu juga seluruh rangkaian kegiatan Bakti Farmasi HKMF Universitas Sriwijaya selesai. Kami pun packing, pembersihan dan merapikan kembali peralatan yang digunakan selama di Desa Purnajaya untuk dibawa pulang. Setelah semua beres dan siap, kami pun berpamitan dengan seluruh warga dan ibu Kades. Irvan Osaka, selaku ketua pelaksana menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga Desa Purnajaya atas apresiasi dan sambutan yang luar biasa terhadap mahasiswa/i Unsri. Harapan selanjutnya semoga kegiatan sosial seperti ini bisa dilaksanakan kembali, lebih baik dan tentunya bermanfaat bagi yang membutuhkan (at).


 Kegiatan Mengajar di PAUD Puspita


 Pengenalan Profesi Apoteker di SDN 04 Indralaya Utara


 Antusiasme siswa melihat proses menggerus serbuk


 Penobatan Maskot Apoteker Cilik oleh Bupati HKMF


 Pembersihan desa : Lahan pembuatan TOGA


Cek Kesehatan Gratis


 Pasar Murah



 Kegiatan Senam Pagi



Nonton Bareng Film Inspiratif

Senin, 13 April 2015

Beberapa hari yang lalu Universitas Sriwijaya menjadi tuan rumah penyelenggara rangkaian kegiatan LKMMF II ISMAFARSI Sumatera II. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang secara rutin diadakan setiap tahunnya oleh ISMAFARSI dengan tujuan menciptakan kader yang bertanggung jawab, berkepribadian, dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang profesional dan berintelektual tinggi serta peduli terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kefarmasian. Selain itu juga bertujuan untuk mengembangkan wawasan mahasiswa atau pun mahasiswi farmasi Indonesia dalam bidang kesehatan khususnya kefarmasian.
Kegiatan dengan tema “Pemimpin Teladan bedulur di Bumi Sriwijaya” dimulai dari 26-29 Maret 2015 lalu. Sebanyak 51 orang delegasi dari 7 komisariat di Sumatera Wilayah 2 termasuk Universitas Sriwijaya. Selama 3 hari, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang diselenggarakan antara lain welcome party, screening test, berbagai macam materi dan simulasi, workshop, outbond dan terakhir closing party.
Pada hari kamis peserta disambut dengan welcome party, dilanjutkan dengan screening test mengenai ISMAFARSI, essay yang dibuat dan isu-isu kefarmasian. Malam telah larut sehingga dilanjutkan esok hari. Hari jumat, diawali dengan senam pagi, peserta mulai bersiap menerima materi. Ada 3 materi yang akan diterima hari ini antara lain Workshop Patient Counseling Community oleh ibu Rennie Puspa Novita,M.Farm,Klin,Apt. selaku dosen Farmasi Unsri, Strategi Kepemimpinan oleh AR Haderani, menteri advokasi BEM KM Unsri dan Psikologi Massa dan Manajemen Aksi oleh presiden mahasiswa Unsri, Febri Walanda. Peserta dilatih mengedukasi pasien dengan memberi konseling akan resep yang didapat. Ini sungguh berguna sebagai bekal seorang farmasis di masa depan. Peserta belajar perlunya mengelola kepemimpinan yang sudah dipegang dengan memperhatikan manajemen diri dan lingkungan, serta adanya konsolidasi dan networking yang luas sehingga kepemimpinan tercapai menyeluruh. Sore hari dilakukan simulasi aksi di lapangan terbuka dengan tuntutan kepada Presiden yakni JKN vs KIS: Tuntaskan JKN dan Hapuskan KIS. Permasalahan ini dirasa cukup krusial melihat kebingungan yang timbul di masyarakat akan hal ini. Simulasi berlangsung cukup singkat, namun sangat mengobarkan semangat para delegasi. Pada malam hari screening test kembali dilanjutkan.
Sabtu pagi peserta melakukan kegiatan outbond. Terdapat 5 post yang harus didatangi tiap kelompok. 5 post tersebut memiliki tantangan dan aturan yang berbeda-beda. Setiap tantangan yang diberikan memiliki tujuan tertentu seperti melatih kerjasama, kekompakan, kesabaran, menyatukan pikiran dan kekuatan serta ketelitian. Setelah selesai kembali dilanjutkan dengan materi isu strategis kefarmasian dan IPE oleh Shaum Shiyan,M.Sc,Apt. selaku dosen farmasi Unsri. Beliau menyampaikan beberapa isu kefarmasian yang sedang hangat antara lain UKAI, IPE, kasus pemberian salah etiket salah satu perusahaan obat, dan sebagainya. Selanjutnya workshop kesekretariatan oleh SA kesekretariatan ISMAFARSI wilayah dan nasional, Suci Amaliyah Indah Lestari dan Hana Ghina Chairunnisa. Adanya pengenalan SOP kesekretariatan ISMAFARSI sebagai acuan dalam pembuatan surat-menyurat yang berhubungan dengan ISMAFARSI.
Malam harinya terdapat materi advokasi oleh Lumantar Wahyudi dan selayang pandang ISMAFARSI beserta tafsir konstitusinya oleh Sekretaris Jendral ISMAFARSI, Ridho Muhammad Sakti. Beliau menyampaikan materi dengan menerapkan Focus Group Discussion. Peserta mendiskusikan suatu kebijakan yang akan diberlakukan yakni UKAI, Uji Kompetensi Apoteker Indonesia. Diakhir materi Sekjend memberikan post-test mengenai ISMAFARSI.
Keesokan harinya kegiatan selesai ditutup dengan closing party. Terbentuknya nama angkatan yakni Neuron. Diumumkan peserta terbaik putra dan putri, yakni Syarif Rizkullah dari STIFI YP Padang dan Asfaraeni Rahma dari Universitas Sriwijaya Palembang. Dengan begitu, berakhirlah sudah rangkaian kegiatan LKMMF II ISMAFARSI Sumatera II. Salah satu delegasi mengatakan, “Hari ini, kami bertekad, akan bersama menjadi lulusan kader LK 2 ISMAFARSI Wilayah Sumatera II yang siap memajukan ISMAFARSI lebih baik kedepan, berkontribusi aktif demi terwujudnya ISMAFARSI Luar Biasa!”. (at)

Selasa, 27 Januari 2015

27 Januari merupakan hari diperingatinya penyakit kusta sedunia. Tanggal ini ditetapkan oleh seorang pendiri Yayasan Kusta, Raoul Fallereau, seorang wartawan berkebangsaan Prancis. Selama 30 tahun, ia mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nasib penderita kusta. Ia berjuang untuk menghilangkan stigma sosial di masyarakat. Tujuan dari peringatan hari kusta sendiri adalah untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam pemberantasan kusta.

Apa itu kusta?
Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen. Kusta atau lepra (leprosy) adalah penyakit menular yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. Kusta terkenal sebagai penyakit yang sangat ditakuti karena dapat mengakibatkan cacat tubuh akibat kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata.

Bagaimanakah ciri-cirinya?
Tanda-tanda penyakit kusta itu sangat banyak, tergantung dari jenis dan tipenya. Untuk orang awam, berikut ciri-ciri penyakit kusta yang mudah dikenali:
·         Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia
·         Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.
·    Adanya pelebaran syaraf terutama pada saraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
·         Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit
·         Alis rambut rontok
·         Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa)
·       Terutama bagi kelainan kulit yang berupa perubahan warna seperti hipopigmentasi (warna kulit menjadi lebih terang), hiperpigmentasi (warna kulit menjadi lebih gelap), dan eritematosa (kemerahan pada kulit).

Diagnosis penyakit kusta bisa dilakukan dengan melihat tanda utama, antara lain:

1.  Bercak kulit yang mati rasa
Bercak hipopigmentasi (warna kulit menjadi lebih terang) atau eritematosa (kemerahan pada kulit), makula (mendatar) atau plak (meninggi). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa raba, rasa suhu, dan rasa nyeri.

 Gambar 1. Bercak Eritematosa
Gambar 2. Bercak Hipopigmentasi

2. Penebalan saraf tepi
Dapat disertai rasa nyeri dan dapat juga disertai atau tanpa gangguan fungsi saraf yang terkena, yaitu :
  • Gangguan fungsi sensoris : mati rasa.
  • Gangguan fungsi motoris : kelumpuhan.
  • Gangguan fungsi otonom : kulit kering, retak, bengkak, pertumbuhan rambut yang terganggu.
3. Ditemukan kuman tahan asam
Sampel pemeriksaan adalah hapusan kulit cuping telinga dan lesi kulit pada bagian yang aktif. Kadang-kadang sampel diperoleh dari biopsi kulit atau saraf.

Bagaimanakah penularannya?
Pada umumnya penularan penyakit kusta dapat terjadi melalui:
  1. Sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
  2. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikroskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.
Jika dilihat dari usia, kebanyakan anak-anak mudah tertular penyakit ini karena sensitivitas mereka yang lebih tinggi dari orang dewasa. Laki-laki lebih banyak terjangkiti dilihat dari jenis kelamin para penderita kusta. Ras yang paling banyak menderita kusta adalah bangsa Asia dan Afrika. Faktor lingkungan yang kurang sehat serta kesadaran sosial masyarakat dapat menyebabkan penularan mudah terjadi.
Saat ini Indonesia masih menjadi penyumbang kasus baru kusta nomor 3 di dunia setelah India dan Brasil. Pada tahun 2010, Indonesia melaporkan 17.012 kasus baru dan 1.822 atau 10,71% di antaranya, ditemukan sudah dalam keadaan cacat tingkat 2 (cacat yang tampak). Selanjutnya, 1.904 kasus (11,2%)  adalah anak-anak. Keadaan ini menunjukkan, penularan penyakit kusta masih ada di masyarakat dan keterlambatan penemuan kasus masih terjadi.

Bagaimana penatalaksanaan kusta?
Hingga saat ini belum ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya, lebih besar kemungkinan untuk menyebabkan penularan dibandingkan dengan kuman yang tidak utuh. Jadi pengobatan penyakit kusta sangatlah penting untuk mencegah terjadinya penularan. Pengobatan sendiri tentunya bertujuan untuk menyembuhkan penderita kusta dan mencegah timbulnya cacat. Selain itu pengobatan juga berfungsi untuk memutuskan mata rantai penularan. Kuman akan dimatikan sehingga tidak merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit menjadi berkurang dan akhirnya hilang. Pengobatan kusta di Indonesia disesuaikan dengan rekomendasi WHO yaitu program Multi Drug Therapy (MDT) yang terdiri dari Rifampisin, Klofazimin (Lamprene) dan DDS (Dapson/4,4-diamino-difenil-sulfon) yang telah diterapkan sejak tahun 1981. Program MDT ini bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, mengurangi ketidak-taatan pasien, menurunkan angka putus obat, mengefektifkan waktu pengobatan dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.

Tabel 1. Obat dan dosis regimen MDT-PB
Obat & Dosis MDT – Kusta PB
Dewasa
Anak
BB < 35 kg
BB > 35 kg
10-14 thn
Rifampisin(diawasi petugas)
450 mg/bln
600 mg/bln
450 mg/bln(12-15 mg/kgBB/bln)
Dapson(Swakelola)
50mg/hr(1-2 mg/kgBB/hr)
100 mg/hr
50 mg/hr(1-2 mg/kgBB/hr)

Pengobatan MDT untuk kusta tipe PB dilakukan dalam 6 dosis minimal yang diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis maka dinyatakan RFT (Released From Treatment = berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Completion of Treatment Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.

Tabel 2. Obat dan dosis regimen MDT-MB
Obat & Dosis MDT – Kusta MB
Dewasa
Anak
BB < 35 kg
BB > 35 kg
10-14 thn
Rifampisin(diawasi petugas)
450 mg/bln
600 mg/bln
450 mg/bln(12-15 mg/kgBB/bln)
Klofazimin
300 mg/bln (diawasi petugas)dan dilanjutkan esok
50 mg/hr (swakelola)200 mg/bln (diawasi)dan dilanjutkan esok
50 mg/hr (swakelola)Dapson(Swakelola)50 mg/hr(1-2 mg/kgBB/hr)100 mg/hr50 mg/hr(1-2 mg/kgBB/hr)

Pengobatan MDT untuk Kusta tipe MB dilakukan dalam 24 dosis yang diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Setelah selesai minum 24 dosis maka dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri BTA positif. Menurut WHO pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT.

Penyakit kusta merupakan salah satu permasalahan yang harus diatasi dari sekian banyaknya masalah lain seperti meningkatnya penyakit lain serta munculnya penyakit baru. Adanya pengobatan untuk penyakit kusta tidak serta merta membuat pemerintah lepas tangan akan hal ini. Perlu adanya peran petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar kenali, sadari dan waspadai penyakit kusta dan penderita kusta untuk berobat secara teratur sehingga rantai penularan penyakit kusta dapat putus. Meskipun penyakit ini dapat disembuhkan, dari dulu stigma selalu mengakar bagi para penderita kusta sehingga mereka mengalami diskriminasi secara sosial. Mereka sangat sulit mengenyam pendidikan, mendapatkan pekerjaan, atau bahkan menikmati fasilitas publik hanya karena sedang atau pernah menderita penyakit kusta. Stop stigma dan diskriminasi! Mereka perlu motivasi dan semangat untuk memerangi penyakit ini. Mereka juga berhak untuk mendapat tempat yang layak di tengah-tengah masyarakat. Melalui peringatan hari kusta sedunia ini, mari kita saling berbagi informasi akan penyakit kusta sehingga kita bisa bersama memerangi penyakit ini, mewujudkan Indonesia sehat, Indonesia bebas kusta!