Tampilkan postingan dengan label Randi hermawan (Farmasi Unsri 2012). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Randi hermawan (Farmasi Unsri 2012). Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2015


Setelah menerbitkan cerita kehidupan mahasiswa farmasi part I, alhamdulilah penulis berkesempatan menerbitkan pengalaman penulis kembali dalam part kedua. Semoga ceritanya menarik dan sarat akan pengalaman yang bisa diambil oleh pembaca, khususnya teman-teman sesama kolega mahasiswa farmasi yang masih berkutat dikampus saat ini.
Cerita ini merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya, dimana diambil dari pengalaman penulis sendiri saat kuliah di farmasi UNSRI, khususnya pengamatan penulis di teman-teman angkatan 2012 pastinya. Penulis bakal cerita kehidupan penulis dari semester ketiga dan keempat. Semester ketiga dan keempat adalah masa-masa sulit bagi mahasiswa farmasi, khususnya bagi mahasiswa farmasi UNSRI. Semester ketiga adalah ibarat kita akan mendaki gunung di langkah awal. Sedangkan, semester keempat adalah masa dimana kita telah mendaki gunung ditengah-tengah perjalanan. Kadang, disemester keempatlah akan diuji seberapa mampu kita bertahan difarmasi. Apakah kita melesat maju atau melesat mundur. Ibarat dalam perjalanan pendakian sebuah gunung, apakah bisa bertahan atau tidak.
Bicara masalah perkuliahan disemester ketiga , masih seperti semester sebelumnya, tetapi lebih diarahkan ke bidang farmasi. Karena masih bergabung dengan fakultas MIPA dan belum merupakan fakultas farmasi, kuliah farmasi UNSRI disemester ketiga masih diajarkan mata kuliah yang berhubungan dengan MIPA, diantaranya parasitologi, kromatografi, dan sebagainya. Selain itu, mata kuliah bidang farmasi yang didapatkan disemester ketiga diantaranya berupa farmakologi part 1, teknologi farmasi part 1 (sediaan cair), analisa farmasi kualitatif, biokimia 1, farmasi fisika 2 dan sebagainya. Untuk jumlah praktikum, terdapat 4 buah praktikum yang harus dijalani disemester ketiga ini. Sama seperti semester kedua yang berjumlah 4 buah praktikum. Semua praktikumnya awalnya terasa berat, namun setelah dijalani semua akan terasa mudah dan indah karena kita tidak sendiri dalam menjalani hal tersebut. Ada teman-teman yang juga sama-sama berjuang melewati itu semua bersama kita.   Mata kuliah farmakologi 1 adalah mata kuliah yang butuh hafalan yang super kuat, karena tanpa adanya modal itu akan sulit dalam menjalani perkuliahan ini. Penulis adalah orang yang tidak kuat menghafal, jadi ya nilai yang keluar biasa-biasa saja,, hahaha Makanya, banyak teman-teman yang IP nya jatuh karena matakuliah ini. Materinya banyak, obat-obatnya banyak, jenisnya banyak, ya wajar saja kalo banyak yang jatuh dimata kuliah ini, termasuk penulis sendiri. Maklum kapasitas otak sudah lelah kali ya, hahaha. Tips dari penulis kalo menghadapi kuliah ini apalagi mendekati ujian ini, baiknya hafalannya dilakukan 1 minggu sebelum ujian, jangan pernah H-1 atau SKS (sistem kebut semalam) ya...
Lanjut cerita ke mata kuliah analisa farmasi kualitatif. Biasanya kuliah ini berhubungan dengan menebak senyawa dalam suatu zat dengan berbagai metode tertentu serta melihat ciri khusus dari senyawa tersebut yang tidak dimiliki oleh senyawa lain. Kualitatif kalo ibaratnya seperti menebak sesuatu , istilahnya seperti seorang dukun,, hahaha tetapi menebak dengan ketepatan analisis yang sesuai serta berdasarkan akurasi dan presisi sehingga penebakannya bisa tepat dan sesuai. Praktikum ini juga hanya menebak senyawa dalam suatu zat , dengan mengandalkan reagen-reagen yang sesuai dengan ciri khusus senyawa tersebut. Dalam praktikum ini juga, banyak teman-teman penulis yang salah dalam menebak. Makanya, buat kalian mesti hati-hati sebelum memutuskan sesuatu ya. Ibarat mencari jodoh, pasti semuanya mencari yang terbaik .. hehehe
Beralih ke mata kuliah teknologi farmasi jilid 1, yakni sediaan cair. Kuliah teknologi farmasi terdiri dari 3 jilid, yakni sediaan cair-semisolid, sediaan padat, dan sediaan steril. Kuliah ini akan diajarkan bagaimana teknologi dalam pembuatan sediaan cair di dunia farmasi sebetulnya secara garis besar, baik dari bahan mentah hingga menjadi suatu produk farmasi yang bernilai jual tinggi , berkualitas namun tidak meninggalkan segi efek terapi yang ditimbulkan pada sediaan yang dibuat. Dalam kuliah ini sebetulnya yang dilihat adalah bagaimana ide kita dalam mengembangkan produk yang dibuat, berdasarkan kestabilannya, efikasinya serta akseptabilitasnya terhadap pasien. Untuk matakuliah lainnya disemester tiga berjalan seperti biasa saja dan tidak bisa disebutkan satu per satu. Hehehe..
Bicara masalah kuliah disemester tiga, tentunya banyak pengalaman dan cerita menarik yang telah dilalui , baik suka maupun duka. Semua itu dilalui bersama teman-teman yang ada didekat kita. Masalah sahabat, percintaan dan kehidupan sehari-hari pun selalu menjadi kenangan menarik. Saat disemester ketiga inilah, penulis melihat kesibukan diantara mahasiswa farmasi, khususnya angkatan penulis yakni farmasi 2012. Masih berkutat dengan laporan, tugas, dan pre test yang selalu melanda ... hihihi kalo dilihat-lihat, mungkin kantung mata mahasiswa farmasi banyak yang turun beberapa senti dan tampak garis bawah mata tambah hitam. Maklum saja, akibat efek begadang tiap malam ngerjain laporan (mudah-mudahan begitu, hehehe). 4 buah praktikum disemester 3 mampu memudarkan warna putih kemilau jas lab (apalah coba). Maklum saja, kalo jas lab nya cuma 1 ya wajar. Hampir tiap hari dipakai dan hanya 1. Salah satu yang membuat jas lab kita kotor sebagian besar akibat cairan , mungkin dalam hal ini reagen yang berwarna. Mungkin reagennya mau melukis di kanvas putih jas lab kita kali ya. hihihi
Cerita menarik lainnya yang penulis temui adalah teman yang dulunya belum begitu dekat sekarang menjadi teman akrab. Tapi, ada juga teman yang dulunya akrab sekarang malah menjauh.. hehehe Ada lagi banyak teman-teman yang membuat semacam kelompok kecil (istilahnya geng-gengan) yang kadang memberi dampak positif dan kadang negatif. Terkadang ada yang hanya bergaul dengan kelompok mereka saja tanpa menghiraukan orang lain. Baiknya hal ini jangan ditiru ya, teman. Sesama mahasiswa farmasi kan saudara, gak baik membedakan teman yang satu dengan teman yang lainnya. Maklum saja, semester ketiga memang belum bisa mengenal satu sama lain dan belum bisa saling mengerti satu sama lain.Hidup kan butuh proses, ya mas bro , mbak bro..
Bicara masalah asmara ( istilahnya cinta), ya datar-datar aja. Penulis nggak terlalu memperhatikan masalah yang satu ini. Sejauh pengamatan penulis, antar sesama mahasiswa farmasi yang masih pacaran ya masih lancar-lancar aja. Tapi,udah ada yang putus kok, mungkin karena nggak cocok atau mungkin juga karena LDR, karena pacarnya pindah jurusan,, hehehe.. Cuma ini aja yang penulis tahu mengenai masalah pacaran antar sesama mahasiwa farmasi di angkatan penulis. Mungkin sisa nya bisa pembaca tambahkan sendiri.
            Lanjut aja deh cerita ke semester empat. Semester empat ini kalo menurut penulis adalah semester yang paling banyak menguras hati dan pikiran. Lima praktikum harus dijalani pada semester ini. Bayangkan gimana rasanya tiap hari ngelab. Belum lagi harus nyiapan pretest dan laporan sebelum dimulai praktikum. Kuliah disemester empat sebetulnya waktu itu Cuma 19 sks, tapi ada gandengan praktikumnya yang bikin semester ini terasa berat. Ibaratnya semester ini adalah awal puncak dari perkuliahan di farmasi. Hihihi....
            Matakuliah disemester empat ini terdiri dari kimia medisinal, kimia bahan makanan, farmakognosi, analisa farmasi kuantitatif, teknologi farmasi padat, biokimia klinik serta farmakologi 2. Semua mata kuliah tersebut merupakan bagian dari masing-masing kuliah keahlian berupa farmasi bahan alam, kimia farmasi analisa, teknologi farmasi serta farmasi klinik. Semua bidang keahlian tersebut harus dilalui oleh mahasiwa farmasi di UNSRI karena saat ini belum ada penjurusan yang lebih spesifik untuk mahasiswa sendiri. Maklum saja, karena farmasi UNSRI masih terbilang baru dan dalam tahap berkembang.
            Saran dari penulis kalo disemester empat ini mending siapin lebih dari 1 jas lab. Soalnya jas lab dipake hampir tiap hari. Kebayangkan kalo jas lab nya cuma 1. Kalo bisa dijaga kebersihannya, gak apa apa kok jas labnya 1 aja, penulis juga Cuma punya 1 jab lab yang setia. Hihihi. Apalagi kalo lagi praktikum analisa kuantitatif. Kebanyakan noda jas lab disebabkan karena tumpahan reagen – reagen yang nggak sengaja tumpah di jas lab kita. Ini bisa jadi bukti kalo kita betul-betul ngejalanin praktikum dengan baik dan sungguh –sungguh. Aneh juga kalo jas lab nya masih putih bersih nggak ada noda bercak sekalipun.. Patut dipertanyakan itu,, hehehe
            Penulis mau review dikit nih mengenai kuliah kuliah yang ada disemester empat. Matakuliah farmakognosi lebih diajarkan bagaimana pemanfaatan tumbuhan ataupun bahan alam sebagai bahan untuk obat, praktikumnya sendiri akan dikenalkan dan dekat dengan simplisia. Kalo mata kuliah teknologi farmasi padat lebih di tekankan pada pembuatan sediaan padat dan bagaimana teknologi pembuatannya. Praktikum nya juga lebih kepada pembuatan produk farmasi berbasis kreativitas dan sesuai prosedur. Mata kuliah farmakologi 2  adalah kelanjutan dari farmakologi 1. Mata kuliah analisa farmasi kuantitatif diajarkan bagaimana mengetahui kadar zat yang terdapat dalam suatu sampel dengan menggunakan perhitungan dan prosedur yang sesuai, biasanya dalam praktikumnya lebih ditekankan menggunakan prinsip titrasi ( walaupun agak jadul, ya tetap bermanfaat). Biokimia klinik lebih diarahkan pada bidang klinik. Mata kuliah kimia medisinal adalah mata kuliah yang mengajarkan bagaimana hubungan antara struktur dan aktivitas, atau istilahnya HKSA/QSAR kalo dalam bahasa inggris. Mata kuliah ini penting karena menjadi dasar dalam penemuan suatu senyawa obat yang berkhasiat. Pemodelan HKSA dengan metode docking secara lebih lanjut akan lebih didalami dalam mata kuliah komputasi, sebagai lanjutan dari kimia medisinal
            Oh ya penulis belum cerita bagaimana laboratorium di farmasi UNSRI. Sampai saat ini, laboratorium di farmasi UNSRI masih dalam proses pengembangan. Sehingga harap dimaklumi jika dalam 1 ruang bisa terdiri dari 2 jenis lab yang berbeda. Hal ini wajar saja dengan latar belakang berdirinya farmasi UNSRI yang terbilang cukup baru. Tetapi, proses pelaksaan praktikum bisa berjalan dengan baik meskipun dalam kondisi seperti saat ini.
            Hal yang paling penulis ingat disemester empat itu adalah kebanyakan begadangnya gara-gara deadline ngerjain laporan. Maklum saja, kalo ngerjain sesuatu H-1 itu rasanya lebih greget dan ide-ide nya itu datang dengan lancar. Hehehe tapi kalo kita bisa nyicil laporan saat waktu senggang, kenapa tidak. Untungnya kan bisa kita rasakan sendiri nanti. Terus lagi masalah cinta. Agak rumit kalo cerita tentang hal ini. Kalo menurut pandangan penulis berdasarkan pengalaman penulis saat melihat kejadian disemester 4, cinta bisa membuat persahabatan menjadi pecah dan menimbulkan perselisihan, yang awalnya menjadi sahabat bisa menjadi musuh. Ya, kalo saran penulis cinta yang berlebihan itu tidak baik, apalagi dengan sesama manusia. Cinta yang paling utama itu adalah cinta kepada Tuhan, lalu cinta kepada kedua orang tua dan yang paling bontot adalah cinta kepada sesama manusia. Hehehe

            Cuma ini yang bisa penulis bagikan mengenai cerita pengalaman penulis di semester ketiga dan empat. Semoga bisa menjadi hiburan bagi pembaca dan bisa diambil hikmah dari tiap kejadian,, hehehe,, ambil yang baiknya dan buang yang buruknya ya. Sekian. Sampai bertemu di cerita lainnya.

Jumat, 27 Februari 2015


            Mendengar kata obat, pasti dibenak kita akan terlintas mengenai seorang farmasis ataupun mahasiswa farmasi. Mahasiswa farmasi identitk dengan berbagai kesibukan dan rutininas yang berkepanjangan. Bahkan, saat hari libur tiba, masih saja mahasiswa farmasi  bertemu dengan berbagai tumpukan laporan yang belum terselesaikan ataupun tugas yang tiada henti-hentinya. Pada tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai bagaimana kehidupan dan rutinitas sehari-hari mahasiswa farmasi dalam kehidupannya . Bagian pertama tulisan saya kali ini, akan dibahas mengenai rutinitas mahasiwa farmasi saat masih baru di semester pertama dan semester kedua atau bisa dibilang sebagai tahun pertama kehidupan mahasiwa farmasi. Tulisan yang saya buat ini bersadarkan pengalaman kehidupan saya sendiri sebagai mahasiswa farmasi .Ayo, ikuti ceritanya.
Menaiki anak tangga baru di semester 1 , awal mula pengenalan farmasi dan kehidupan kampus
            Semester pertama biasanya kebanyakan orang masih belum terbiasa dengan lingkungan yang baru, baik itu lingkungan kampus maupun lingkungan tempat tinggal yang baru. Semester 1 identik dengan masa peralihan kita menuju kedewasaan, dan mulai akan meninggalkan kebiasaan kita saat masih duduk di sekolah menengah atas. Lingkungan yang baru  dan teman yang baru membuat kita harus bisa beradaptasi agar kita sendiri bisa nyaman.  Bagi mahasiswa farmasi, semester pertama biasanya identik dengan pengenalan mata kuliah dasar yang menjadi acuan untuk mendalami ilmu farmasi yang sebenarnya.
            Semester pertama bagi mahasiswa farmasi adalah masa adaptasi bagi mereka, apakah bisa tetap bertahan atau tidak. Percaya atau tidak, kebanyakan dari mahasiswa farmasi yang diterima di farmasi adalah mereka yang dulunya ingin masuk ke fakultas kedokteran , tetapi tidak diterima sebagai mahasiwa kedokteran (fakta mahasiswa farmasi UNSRI.. hehe). Tapi , saya yakin dibalik itu, pasti ada sesuatu yang Tuhan rencanakan bagi kita,, hehe . So, live must go on !.
            Mata kuliah semester pertama ini biasanya identik dengan mata pelajaran saat kita masih di sekolah menengah atas. Namun , disemester pertama inilah, dasar-dasar farmasi telah diajarkan, seperti mata kuliah farmasetika dasar yang menjadi bekal bagi mahasiswa farmasi untuk terjun kemasyarakat nantinya. Kalo ditanya kuliah di farmasi belajar tentang apa, pastinya di farmasi belajar tentang obat. Namun, sebelum lebih jauh menulusuri mengenai obat, diperkenalkan dasar –dasar ilmu sains murni seperti kimia , fisika, dan biologi yang nantinya digunakan sebagai ilmu penerapan di farmasi. Karena , secara garis besar , keahlian dibidang farmasi dibagi menjadi bidang keahlian farmasi klinik-komunitas, bidang keahlian kimia farmasi analisis, bidang keahlian farmasi bahan alam, dan bidang keahlian farmasi industri. Semua itu menjadikan lapangan pekerjaan didunia farmasi sangat luas dan ilmu sains murni menjadi penting digunakan dalam farmasi.
 Di semester pertama ini,  untuk praktikumnya hanya terdiri dari 3 buah saja, dan masih belum terlalu sibuk. Namun, yang membuat mahasiswa farmasi sibuk di semester ini biasanya akibat laporan yang tidak dicicil dan dikerjakan saat sks  (red : sistem kebut semalam) ataupun satu hari sebelum praktikum dimulai ( termasuk saya sendiri : hehe). Malas itu manusiawi, kok. Tetapi, sebaiknya laporan praktikum dicicil per hari untuk menghindari penumpukan laporan. Laporan praktikum anak farmasi disemester awal ini bisa dibilang banyak. Bayangkan saja, semua laporan harus ditulis tangan dan tidak boleh menggunakan media komputer alias diketik. Memang harus diakui, saat-saat pertama inilah , anak farmasi dibiasakan untuk bekerja keras. Selain itu, saya mendapat pelajaran bahwa hidup dimulai dari sesuatu yang sulit untuk bisa menjadi mudah. Saya patut bersyukur karena laporan tak dikerjakan menggunakan mesin ketik yang jadul. Pengalaman seru saat praktikum di semester 1 biasanya mengenai praktikum farmasetika dasar. Disana, diperkenalkan bagaimana cara meracik obat yang baik, dan sesuai dengan dosisnya. Disana kita diajarkan untuk cepat, jujur dan bekerja dengan bersih.
            Awal praktikum di semester pertama ini, biasanya keadaan jas lab masih dibilang cukup bersih dan terawat dengan sempurna. Maklum saja, baru tiga praktikum yang dilalui. Kalo sudah sampai semester atas, bisa saja jas lab yang dulunya putih bersih jadi penuh dengan bercak dan noda. Tapi, itulah tanda bahwa kita telah melalui berbagai kisah manis dan menegangkan bersama jas lab kita tercinta. Makanya, saya sarankan beli lebih dari satu jas lab, sebagai  cadangan kalo jas lab satunya sudah kotor. Kalo penulis jas lab nya cuma satu saja, soalnya sudah nyaman dan ada cerita sendiri dibalik noda-noda jas labnya. Tapi satu saja sudah cukup, asal bisa diatur pemakaiannya.
Kehidupan mahasiwa farmasi disemester pertama biasanya masih belum pasti akan bertahan atau tidak. Kebanyakan disemester ini, mereka masih belum memantapkan hati untuk selesai hingga akhir dan meraih gelar S.Farm (red : Sarjana Farmasi). Pengalaman penulis sendiri, banyak teman-teman saya yang berencana akan pindah ke lain hati, khususnya mereka yang dulunya sangat ngebet mau jadi seorang dokter. Namun, ada juga yang telah mengubur keinginan mereka untuk menjadi seorang dokter. Sekali lagi, hidup memang tak bisa kita mau alurnya. Rencana Tuhan pasti lebih indah daripada kita. Yakinlah akan hal itu. Prospek kerja lulusan sarjana farmasi lebih luas kok dibanding dokter. Apalagi kita juga punya program profesi apoteker yang tak kalah hebat dengan seorang dokter. Tinggal kita sendiri yang mengangkat profesi kita ditengah masyarakat dan mengeksistensikan profesi kita tersebut.
            Semester pertama pasti masih deg-degan menerima hasil kuliah perdana atau biasanya disebut sebagai IP (Indeks Prestasi). Dari hasil IP inilah, biasanya anak-anak farmasi terpecah. Kenapa?. Yang awalnya jadi kawan dekat sebelum tahu hasil IP nya, malah jauhi temennya sendiri. Wah, gara-gara IP persahabatan pun jadi hancur.Mungkin karena terpuruk akibat hasil yang tak diduga-duga dan jauh dari ekspektasi pikirannya. Masalah IP gak perlu galau, kan masih bisa dikejar sampai semester berikutnya. Gak usah mau musuhan ataupun gak mau temenan lagi sama dia lah.. hehehe
            Menginjak pada semester kedua, anak-anak farmasi biasanya sudah mulai tumbuh benih-benih cinta , khususnya pada sesama mahasiwa farmasi. Tumbuhnya cinta diantara mahasiswa farmasi mungkin disebabkan karena intensitas pertemuan yang sangat sering, apalagi dari terbit matahari hingga sore menjelang. Hehehe atau ada sebab lain , yang memang sudah ada rasa dari awal.. haha . Tapi , terlepas dari itu semua, harapannya semoga bisa meningkatkan semangat belajar ya, apalagi udah stabil yang udah ada pasangan,, hihihi yang jadi radikal(single), sabar aja (termasuk saya sendiri, hihihi).. Jodoh gak akan kemana , kok..
            Kehidupan mahasiswa disemester tak jauh berbeda dengan semester awal saat masuk kuliah. Cuma, mulai ada kedekatan antara sesama teman farmasi, dan sudah mulai kompak, khususnya kalo ada masalah tugas ataupun masalah ujian. Biasanya, anak-anak farmasi, khusunya cowok biasanya pada ngumpul waktu ada tugas ataupun ujian. Salah satu kegiatan positif yang bisa nambah kekompakan dan menyelesaikan masalah secara bersama, khususnya masalah tugas dan persiapan menjelang ujian. Bahkan rela nginep dikostan temennya buat belajar. Salut, dah. Demi belajar, apapun dilakukan.. hihihi Kalo anak-anak cewek, saya juga kurang tahu karena tak terlalu kepo (apalah coba). Tapi kalo kebanyakan cerita pas belajar, ujung-ujungnya gak bakalan selesai.
            Satu hal yang perlu digarisbawahi disini adalah setiap apapun yang dilakukan, kalo dikerjakan secara bersama-sama akan terasa ringan dan menyenangkan, kok. Atau istilahnya, sesulit apapun tugas yang diberikan dosen pada kita, semuanya akan menjadi seru dan bahkan bukan menjadi beban. Kalo nggak percaya, coba aja kerjain tugas bareng teman-teman kalian. Selain ngerjain tugas , pastinya bakal ada sisipan-sisipan cerita yang nggak akan garing saat bikin tugas. Malah, pikiran akan lebih lega karena masing-masing mengungkapkan cerita mereka.
        
    Untuk masalah cerita penulis di tingkat kedua dan tingkat ketiga, nantikan aja tulisan selajutnya. Terus ikuti ya.. Tetap sehat dan terus semangat mengejar cita-cita... Terima kasih... Maaf kalo ceritanya agak kurang nyambung, masih pemula soalnya..
Persembahan untuk teman-teman farmasi , khususnya teman farmasi 2012 sebagai inspirasi cerita


Selasa, 20 Januari 2015


Obat herbal sudah banyak dikenal dan diketahui oleh masyarakat. Namun sayangnya, belum banyak yang tahu dengan benar bagaimana penggunaan obat herbal dengan benar agar obat herbal yang digunakan aman dan tak merugikan kesehatan nantinya. Pengobatan cara nenek moyang atau pengobatan tradisional menggunakan obat –obat herbal mulai kembali banyak digunakan diera modern sekarang ini. Masyarakat Indonesia patut bersyukur karena Indonesia memiliki potensi tinggi dalam bidang pengobatan herbal. Indonesia yang beriklim tropis merupakan negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Indonesia memiliki sekitar 25.000 hingga 30.000 spesies tanaman yang merupakan 80 persen dari jenis tanaman di dunia dan 90 persen dari jenis tanaman di Asia.


Obat herbal Indonesia, yang dikenal sebagai JAMU, sejak berabad-abad telah digunakan secara luas oleh bangsa Indonesia untuk memelihara kesehatan dan mengobati penyakit. Di masa depan, pengembangan dan penggunaan obat herbal Indonesia mesti didasarkan bukti-bukti ilmiah yang kuat, terutama melalui R&D dan standarisasi, sehingga dapat diintegrasikan dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.

Di Indonesia, penggunaan obat herbal untuk terapi kesehatan sudah banyak dilakukan. Sebenarnya hal ini tak hanya dilakukan di Indonesia saja, namun juga dibeberapa negara, bahkan negara maju termasuk Jepang dan Amerika Serikat. Banyak dokter dan rumah sakit yang mendukung penggunaan obat herbal. Bahkan, pemerintah mengatur penyelenggaraan pengobatan komplementer alternatif dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 1109 tahun 2007.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan, definisi pengobatan komplementer tradisional – alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran konvensional. Dalam penyelenggaraannya, harus sinergi dan terintegrasi dengan pelayanan pengobatan konvensional dengan tenaga pelaksananya dokter, dokter gigi, apoteker dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki pendidikan dalam bidang pengobatan komplementer tradisional – alternatif. Jenis pengobatan komplementer tradisional -alternatif yang dapat diselenggarakan secara sinergi dan terintegrasi harus ditetapkan oleh Menteri Kesehatan setelah melalui pengkajian.

Dewasa ini penggunaan obat herbal cenderung terus meningkat, baik di negara sedang berkembang maupun di negara-negara maju. Peningkatan penggunaan obat herbal ini mempunyai dua dimensi penting yaitu aspek medik terkait dengan penggunaannya yang sangat luas diseluruh dunia, dan aspek ekonomi terkait dengan nilai tambah yang mempunyai makna pada perekonomian masyarakat. Obat Tradisional Cina/Traditional Chines Medicine (TCM) memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua dibanding dengan obat entitas kimia (chemical entity) yang berasal dari Barat. TCM telah lebih dari 3000 tahun menjadi bagian dari budaya Cina dan telah puluhan abad menyebar luas dibawa oleh warga bangsa itu yang merantau keseluruh penjuru dunia (Chinese Oversease). Dengan
meningkatnya globalisasi dan kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, maka penyebaran TCM makin meluas keseluruh dunia dan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Jenis Obat Herbal di Indonesia
 Obat herbal Indonesia pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu : (1) Jamu; (2) Obat Herbal Terstandar; dan (3) Fitofarmaka. Jamu sebagai warisan budaya bangsa perlu terus dikembangkan dan dilestarikan dengan fokus utama pada aspek mutu dan keamanannya (safety). Khasiat jamu sebagai obat herbal selama ini didasarkan pengalaman empirik yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama.

Berdasarkan berbagai hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukan selama ini ternyata sebagian besar jamu yang digunakan oleh masyarakat luas mengandung dua komponen penting, yaitu imunomodulator dan anti oksidan. Dengan demikian jamu bermanfaat untuk menjaga dan memelihara kesehatan, sehingga tidak mudah sakit karena sistem imunitas tubuh terpelihara dan berfungsi dengan baik. Obat herbal terstandar adalah obat yang simpliasianya telah dilakukan standarisasi dan telah dilakukan uji pra klinik. Standarisasi simplisia merupakan upaya menyeluruh dimulai dengan pemilihan lahan (unsur tanah) yang tepat untuk tumbuhan obat tertentu, budidaya yang baik sampai pasca panen (good agriculture practices). Setiap simplisia mengandung komponen yang kompleks. Untuk standarisasi bagi setiap simplisia maka perlu ditetapkan zat penanda (finger print) yang digunakan sebagai parameter. Fitofarmaka adalah adalah obat herbal yang telah dilakukan uji klinik secara lengkap. Dengan uji klinik yang lengkap dan mengikuti prinsip-prinsip uji klinik yang baik, maka fitofarmaka dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan formal karena memiliki evidence base dan dukungan data ilmiah yang kuat.

 Budi daya tanaman obat Indonesia mempunyai 3 aspek strategis yaitu: (1) menjamin mutu simplisia sesuai dengan standar; (2) mejaga kelestarian tanaman obat Indonesia; dan (3) meningkatkan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat luas. Dengan budi daya yang baik, mulai dari pembibitan, penanaman sampai pemanenan akan dapat dihasilkan simplisia dengan kualitas yang baik dan harga yang kompetitif. Budi daya ini penting untuk diwujudkan karena pasokan simplisia dari dalam negeri selama ini sebagian besar masih berasal dari tanaman liar yang tentu suatu saat akan punah jika tidak didukung oleh usaha budi daya tanaman obat. Langkah penting yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan budi daya ini adalah pemetaan tanaman obat unggulan Indonesia untuk mengetahui di daerah mana tanaman obat tersebut tumbuh dan menghasilkan kandungan bahan aktif yang optimal.

Penelitian, Pengembangan dan Mutu Obat Herbal Indonesia
Penelitian dan pengembangan obat herbal di Indonesia masih belum optimal terutama masih lemahnya koordinasi dan jaringan R&D di Indonesia. Berbagai penelitian obat herbal memang telah dilakukan di Indonesia oleh berbagai institusi, tetapi tanpa koordinasi dan arah yang jelas. Sebagian besar penelitian masih bersifat marjinal, belum komprehensif dan kurang memiliki kedalaman sehingga hasilnya tidak optimal untuk diimplementasikan oleh usaha industri. Dalam konteks ini Pemerintah harus memiliki visi yang jelas, komitmen yang kuat dan program yang kongkret mengenai pengembangan obat herbal Indonesia. Langkah lebih lanjut adalah membangun networking penelitian dan pengembangan obat herbal Indonesia yang melibatkan lembaga penelitian universitas dan industri. Aliansi stratejik ini perlu diperkuat dengan kerjasama yang saling menguntungkan. Di satu pihak industri akan dapat memproduksi dan memasarkan produk-produk unggulan hasil riset universitas, dilain pihak universitas memperoleh dana untuk memperkuat riset unggulan yang bermanfaat bagi masyarakat luas sekaligus menghasilkan nilai tambah ekonomi yang cukup besar.

Upaya untuk menjamin mutu dan keamanan (safety) obat herbal harus dilakukan sejak awal proses mulai dari pemilihan dan penggunaan simplisia, seluruh proses produksi sampai produk-produk tersebut beredar di masyarakat. Produsen obat herbal mempunyai tanggung jawab yang besar atas mutu dan kemanan produknya yang dipasarkan kepada masyarakat luas. Untuk itu produsen harus mempunyai sistem pengawasan internal yang dapat memantau dan mengawasi mutu dan keamanan produknya sejak awal proses sampai produk tersebut ada di peredaran (post marketing survilance). Bersamaan dengan itu Pemerintah harus melakukan pengawasan yang sistematik yang mencakup pengawasan pre-market maupun post-market untuk memastikan produk-produk herbal yang beredar di masyarakat aman dan bermanfaat.

Cermati Penggunaan Obat Herbal
Obat herbal yang dibuat dari tanaman obat juga memiliki kandungan zat-zat tertentu yang dapat menimbulkan reaksi berbeda pada setiap orang yang mengkonsumsinya. Setiap pasien wajib memperhatikan reaksi ini. Ilmuwan dari King’s College, Inggris, menemukan fakta bahwa obat herbal memang memiliki manfaat. Namun hasil penelitiannya menunjukkan bahwa obat herbal memiliki efek samping yang dapat mengancam ginjal dan menimbulkan kanker darah. Kalau ada yang bilang herbal tidak punya efek samping, itu hanya akal akalan saja. Tetap ada (efek sampingnya). Itulah mengapa penggunaan dan dosisnya juga harus tepat. Jika diminum dengan takaran tidak tepat, efek samping bisa muncul. Organ yang jadi korban biasanya lambung, hati, ginjal, dan saluran kencing. Bisa juga terjadi reaksi alergi, fotosensitivitas, dan gangguan tidur. Sedangkan tepat indikasi merujuk pada penggunaan obat yang memang sesuai dengan kondisi pasien. Karena itulah diperlukan kepastian medis lewat berbagai tes untuk mengetahui penyakit yang diderita pasien. Tidak bisa hanya mengira-ngira. Sementara itu, tepat penderita mengacu pada usia pasien. Sebab, bisa jadi obat herbal untuk anak-anak belum tentu cocok untuk orang dewasa. Begitu juga sebaliknya.

Terdapat beberapa contoh obat herbal yang diduga mempunyai efek samping yang serius, diantaranya tanaman feverfew, hawtorn, kava dan sebagainya. Tanaman Feverfew ( Tanacetum parthenium ) mempunyai indikasi untuk mencegah migrain. Namun, efek samping yang ditimbulkan oleh tanaman ini bisa menyebabkan Sindrown “post-fever” setelah penguunaan dihentikan. Tanaman hawtorn ( Crataegus sp ) mempunyai indikasi untuk penyakit Congestive Heart Failure. Namun, efek sampingnya bisa menyebabkan efek adiktif dengan glikosida cardiac lainnya. Lalu, tanaman kava (Piper methysticum) mempunyai indikasi untuk mengatasi kelelahan. Namun, efek samping yang ditimbulkan bisa menyebabkan kerusakan pada hati.

Jadi, jangan berpikir kalau obat herbal dari tanaman tidak mempunyai efek samping. Tetap berwaspada terhadap obat herbal yang dikonsumsi, mengingat akan ada efek samping yang ditimbulkan jika dikonsumsi terus menerus ataupun saat konsumsi obat dihentikan. Bisa jadi, efek samping yang timbul memang bukan sekarang.

Berikan Jeda Antara Penggunaan Obat Herbal dan Obat Konservatif
Beberapa pasien memutuskan hanya mengkonsumsi obat herbal tanpa sama sekali meminum obat-obatan konservatif. Tapi ada juga tipe pasien yang meminum dua obat sekaligus untuk terapi pengobatannya. Mengkonsumsi obat dokter dan obat herbal secara bersamaan memang diperbolehkan. Namun, dengan catatan, harus diberi jarak waktu satu hingga dua jam untuk mengkonsumsi kedua obat.

Jangan sampai kedua obat diberikan sekaligus tanpa jeda sedikit pun. Fungsi kimia obat yang diresepkan dokter bisa jadi tidak efektif. Kondisi itu terjadi karena serat yang terdapat pada obat herbal mengikat zat kimia yang ada di obat-obatan medis. Jadi, mau yang mana dulu yang dikonsumsi, bebas, tapi wajib diberi jeda satu sampai dua jam. Masyarakat tidak boleh sembarangan mengkonsumsi obat herbal. Selain mengetahui indikasi, penderitanya, obat yang digunakan, dosis, cara pemberian dan efek samping obat, pasien hendaknya lebih jeli memilih obat herbal. Pilihlah yang sudah terbukti. Apalagi, saat ini marak sekali penjualan obat-obatan herbal yang terkesan membabi buta dan membodohi masyarakat. Perlu adanya kerja sama antara pasien dan dokter agar obat herbal yang dipilih bisa mendukung obat medis, sehingga mampu memberikan kesembuhan pada pasien tanpa khawatir timbulnya resiko efek samping obat.